01 Agustus 2016

PEMBERDAYAAN PERAJIN BATIK CIREBON


Terletak hanya sekitar tiga jam perjalanan dari Jakarta, Cirebon menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi warga Ibukota dan sekitarnya. Hal ini juga berdampak pada geliat kota di wilayah yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa tersebut.

 

Selain wisata kuliner, berburu batik adalah salah satu tujuan pelancong  datang ke kota ini. Sentra batik Cirebon di kawasan Trusmi pun riuh oleh pengunjung utamanya setiap akhir pekan. Padatnya lalu lalang kendaraan, bertambahnya deretan reklame dari toko-toko batik menjadi penanda geliat Trusmi.   

 

Semakin banyaknya perajin dan toko di kawasan Trusmi mau tak mau membuat orang-orang yang terlibat di industri ini harus berupaya menyajikan produk yang diminati pasar. Mereka yang berkecimpung dalam industri batik pun senantiasa perlu mengembangkan kapasitas diri agar selalu ada di hati pembeli.

 

Hal ini sejalan dengan yang dilakukan BTPN sebagai bank yang fokus menggarap segmen masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk para pensiunan, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), serta masyarakat prasejahtera produktif (mass market).  BTPN meyakini nasabah mass market tidak hanya membutuhkan akses finansial, tetapi juga pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitasnya. 

 

Pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas nasabah ini terwujud melalui Program Daya, yakni program pemberdayaan mass market yang berkelanjutan dan terukur dari BTPN. Daya memiliki tiga pilar yakni Daya Sehat Sejahtera (DSS), Daya Tumbuh Usaha (DTU) dan Daya Tumbuh Komunitas (DTK).   

 

Sebagai bagian dari program DTK, BTPN membina komunitas pembatik dan perajin rotan di Cirebon. Para ibu anggota komunitas ini diajari berbagai ketrampilan untuk meningkatkan kapasitasnya, baik keterampilan terkait teknis produksi maupun pelatihan terkait manajemen keuangan, pemasaran, dan juga kesehatan.

 

Akhir Juli 2016 lalu, Komisaris Utama BTPN Mari Elka Pangestu dan Direktur BTPN Anika Faisal mengunjungi kios-kios batik yang dikelola bersama komunitas binaan DTK. Sebelum bergabung dengan komunitas,  para Ibu ini hanya buruh batik yang mengerjakan pesanan orang dengan upah minimal.  “Ini proses pewarnaannya tiga kali, Bu, jadi memang harganya sesuai dengan proses membuatnya,” ucap Hanifah, salah satu anggota komunitas kepada rombongan BTPN dari kantor pusat.

 

Hanifah dan para ibu anggota komunitas, kini tak hanya mampu memproduksi batik tulis halus namun juga dapat menjual hasil karyanya secara langsung. Mereka juga percaya diri dan piawai menawarkan dagangannya ke calon pembeli.

 

“Kain batik ini akan lebih menarik bagi pembeli kalau ada story soal motifnya dan sedikit soal proses pengerjaannya,” saran Mari Elka sambil membentangkan sehelai kain berwarna cokelat bermotif keratonan. Mantan menteri perdagangan serta menteri pariwisata dan ekonomi kreatif inipun memberikan berbagai saran dan tips praktis pada anggota komunitas. 

 

Semangat pemberdayaan juga menjadi bagian dari Iman Priyanto, nasabah BTPN Mitra Usaha Rakyat (MUR) yang juga pemilik merek Batik Ayunda. Di lingkungan tempat tinggalnya, Iman kerap mengajarkan ibu-ibu para tetangganya untuk mampu memproduksi dan menggambar desain batik sendiri. Selain itu ia juga seringkali didatangi mahasiswa atau siswa SMK yang ingin belajar proses membatik. “Saya merasa ikut bertanggungjawab mengajarkan batik pada anak-anak muda, supaya ada yang meneruskan,” katanya.

 

Memulai usahanya sendiri pada 1995, Iman percaya bahwa ilmu yang dimilikinya akan jauh lebih bermanfaat jika ditularkan pada orang lain. Ia juga tak segan berbagi ilmu pada para pegawainya sebagai bekal jika mereka ingin membuka usahanya sendiri.

 

Siang itu, Senin 25 Juli 2016, Iman berbagi pengalaman dan tips kepada sesama nasabah BTPN MUR yang berasal dari kawasan Trusmi, Plered dan sekitarnya. Suka duka dan perjalanan sebagai produsen batik dibaginya kepada para peserta yang bergerak di industri yang sama namun dengan skala lebih kecil. Berbagai pesan Ia sisipkan, memahami selera pasar dan mencoba hal baru adalah dua diantaranya. Di Batik Ayunda sendiri Ia mencoba hal baru dalam memproduksi batik, seperti batik cetak lilin, batik emboss, dan sebagainya.

 

“Kreatifitas adalah modal yang tidak akan pernah habis. Kreatifitas pula yang akan membuat batik tetap memiliki tempat tak hanya bagi masyarakat Indonesia, namun juga dunia,” tutur Mari Elka yang sore itu hadir di antara para nasabah. Ia juga meminta agar para nasabah yang hadir mau terus mengasah kemampuannya, membaca tren yang ada dan yang penting tidak mudah menyerah.

 

Perkembangan industri batik Cirebon tentunya tak lepas dari semangat orang-orang yang terlibat di dalamnya, selain faktor pendukung seperti akses finansial dan akses pasar. Melakukan pemberdayaan bagi para perajin batik adalah salah satu upaya agar semangat itu tetap ada. “Apa yang dilakukan Bapak dan Ibu adalah hal yang penting. Penting buat keluarga Bapak/Ibu sendiri, penting bagi Cirebon dan penting juga bagi Indonesia,” tutup Anika Faisal sore itu pada para pembatik.


Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

 

PT Bank BTPN Tbk

Andrie Darusman – Daya & Corporate Communications Head

Telp: 021-30026200

Email: [email protected] atau [email protected]