31 Oktober 2016

TAK ADA ALASAN LAGI UNTUK TIDAK MENABUNG


Dalam 15 tahun terakhir, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produk domestik bruto (PDB) per kapita terus mengalami kenaikan. Tahun 2000, PDB per kapita masih di angka Rp6,78 juta. Lima belas tahun kemudian sudah mencapai Rp45,18 juta. Fakta ini menunjukkan tingkat pendapatan masyarakat Indonesia semakin meningkat.

 

Namun, peningkatan pendapatan masyarakat tersebut belum diikuti oleh pola pengelolaan keuangan yang baik. Hal ini terlihat dari menurunnya keinginan masyarakat untuk menabung akibat peningkatan pendapatan (marginal propensity to save/MPS). Menurut data BPS, selama 11 tahun sejak 2003, angka MPS cenderung menurun, sementara angka marginal propensity to consume (MPC) cenderung meningkat.

 

Dibandingkan beberapa negara di kawasan ASEAN dan sekitarnya, seperti Singapura, Filipina, dan China, rasio saving to GDP Indonesia terbilang rendah. Singapura dan China rasionya mencapai 49%, sementara Filipina sebesar 46%. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya sebesar 31%.

 

Makanya, bersamaan perayaan World Saving Day (Hari Menabung Sedunia) yang jatuh setiap tanggal 31 Oktober, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Industri Jasa Keuangan (IJK) menggelar kampanye gerakan “Ayo Menabung”. Kampanye yang dibuka secara resmi oleh Presiden RI Joko Widodo pada 31 Oktober 2016 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, itu bertujuan meningkatkan budaya menabung masyarakat di berbagai produk jasa keuangan serta mendukung pembiayaan pembangunan nasional.

 

Kampanye ini juga merupakan bagian dari penerapan Peraturan Presiden Republik Indonesia (Perpres) Nomor 82 Tahun 2016 Tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) yang dikeluarkan pada tanggal 1 September 2016.

 

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menekankan, gerakan “Ayo Menabung” tidak terbatas dengan menabung di bank, tetapi juga pada produk industri keuangan non-bank dan pasar modal. Perluasan istilah menabung ini merupakan strategi OJK bersama IJK untuk semakin meningkatkan akses masyarakat ke sektor keuangan yang diharapkan dapat memperbaiki kesejahteraan.

Untuk menyemarakan gerakan tersebut, selama bulan Oktober 2016, OJK dan IJK menyelenggarakan rangkaian kegiatan inklusi keuangan dengan semboyan "Inklusi Keuangan Untuk Semua". Selama pelaksanaan bulan inklusi keuangan tersebut, tercatat pembukaan jumlah rekening baru di seluruh industri jasa keuangan mencapai 3,5 juta rekening.

 

Rekening baru sebanyak itu tersebar di beberapa saluran keuangan, dengan rincian: rekening dana pihak ketiga (DPK) di bank sebanyak 3.388.267 rekening, polis asuransi sebanyak 12.482 polis, rekening investasi pada pasar modal sebanyak 14.880 rekening, rekening pada dana pensiun sebanyak 665 rekening, rekening pembiayaan sebanyak 14.321 rekening, dan rekening tabungan emas sebanyak 115.862 rekening.

 

Program ini sangat urgen mengingat masih rendahnya keinginan masyarakat Indonesia untuk menabung. Dalam pandangan OJK, hal ini salah satunya dipengaruhi oleh tingkat akses masyarakat Indonesia ke lembaga keuangan formal yang masih rendah. Data Bank Dunia 2014 mencatat, baru 36,1% masyarakat Indonesia yang memiliki akses ke perbankan. Angka ini di bawah negara-negara lain di ASEAN seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura.

 

OJK dan IJK bersama beberapa kementerian telah melakukan beberapa inisiatif untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat kepada sektor keuangan formal, khususnya masyarakat yang berpenghasilan rendah dan berdomisili di daerah-daerah yang belum dapat dijangkau oleh Lembaga Jasa Keuangan.

 

Inisiatif tersebut di antaranya melalui Layanan Keuangan Tanpa Kantor Dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai). BTPN menerapkan inisiatif branchless banking tersebut melalui BTPN Wow!. Produk layanan keuangan tanpa kantor cabang untuk financial inclusion yang resmi di-launching pada Maret 2015 lalu itu, per Oktober 2016 telah memiliki 130 ribu agen dengan 2,1 juta nasabah di Pulau Jawa dan Sumatera.

 

BTPN Wow! menggunakan fasilitas ponsel GSM dengan nomor HP sebagai nomor rekening nasabah. Selain menabung, nasabah juga bisa melakukan sejumlah transaksi, seperti membeli pulsa HP, pulsa listrik, tarik tunai, dan transfer ke semua rekening bank secara real time.

 

Layanan dengan menggunakan ponsel GSM sangat efektif. Sebab, dari 60 desa di Indonesia, hanya 31% di antaranya yang memiliki sinyal kuat internet. Makanya, layanan ini menggunakan layanan Unstructured Supplementary Service Data (USSD) dengan nomor *247# yang dapat beroperasi di ponsel GSM, bahkan dengan kondisi sinyal minimum. Inovasi ini merupakan kunci utama untuk bisa membuka akses keuangan bagi segmen mass market. Sehingga, tak ada alasan lagi bagi mereka untuk tidak menabung. Ayo menabung! (*)

 


Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

 

PT Bank BTPN Tbk

Andrie Darusman – Daya & Corporate Communications Head

Telp: 021-30026200

Email: [email protected] atau [email protected]