22 April 2014

KREDIT BTPN TUMBUH 14%, NPL (GROSS) 0,7% DAN CAR MENCAPAI 24%


Jakarta, 21 April 2014 – Berkomitmen melayani dan memberdayakan segmen masyarakat berpenghasilan rendah, pelaku usaha mikro & kecil (UMK), dan masyarakat pra-sejahtera produktif (mass market), PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) terus mencatatkan kinerja positif.

Hal ini terlihat dari penyaluran kredit triwulan I-2014 yang tumbuh sehat dengan tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sangat rendah. BTPN membukukan pertumbuhan kredit tahunan sebesar 14% (year-on-year/yoy), dari Rp41 triliun pada 31 Maret 2013 menjadi Rp47 triliun pada 31 Maret 2014. Pencapaian ini sejalan dengan ekspektasi regulator yang menargetkan peningkatan kredit di kisaran 15% demi pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan seimbang.

“Dampak dinamika perekonomian yang terjadi sejak semester II-2013 masih berlanjut hingga kini. Kami tentu bersyukur tetap bisa tumbuh di tengah situasi perekonomian yang penuh tantangan,” kata Jerry Ng, Direktur Utama BTPN.

Kondisi perekonomian nasional masih dibayang-bayangi oleh inflasi tinggi, kenaikan suku bunga simpanan dan pemulihan ekonomi global. Situasi tersebut mendorong perbankan melakukan sejumlah penyesuaian, termasuk memperlambat laju kredit. “Kami optimistis, setelah itu industri bisa bertumbuh lebih baik,” katanya.

Kenaikan penyaluran kredit tetap diimbangi dengan penerapan asas kehati-hatian yang tercermin dari NPL gross 0,7% pada akhir Maret 2014, tidak berbeda dari NPL gross akhir Maret 2013.

Pertumbuhan kredit dan NPL rendah ini tidak terlepas dari strategi BTPN yang memberikan pelatihan dan pendampingan berlanjutan kepada debitur. Pelatihan dan pendampingan yang dikenal dengan Program Daya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas nasabah pensiunan, pelaku usaha mikro & kecil (UMK), serta komunitas pra-sejahtera produktif. “Nasabah yang disiplin mempraktekkan pelatihan keuangan dalam mengelola usahanya, merasakan langsung manfaat program Daya,” ungkap Jerry.

Sepanjang tiga bulan pertama 2014, BTPN telah menyelenggarakan 46.233 aktivitas Daya, tumbuh 194% dari periode yang sama tahun 2013. Sedangkan jumlah peserta Daya mencapai 566.772 nasabah, atau meningkat 101% (yoy). Data ini menunjukkan tingginya minat nasabah mass market untuk mengikuti pemberdayaan yang dapat meningkatkan kapasitas usaha mereka.

Sejalan dengan langkah perusahaan untuk memperlambat laju kredit, BTPN menyeimbangkan porsi pendanaan dengan memperhatikan kecukupan likuiditas. Per 31 Maret 2014, Dana Pihak Ketiga (DPK) BTPN tercatat Rp 49,3 triliun, tumbuh 6% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 46,6 triliun. “Dengan strategi ini, loan to deposit ratio (LDR) terjaga di level 95%. Apabila memperhitungkan pendanaan dari obligasi, rasio likuiditas kami mencapai 84%, sangat kuat dan sehat,” kata Jerry.

Pertumbuhan yang cukup moderat di sisi kredit dan DPK, mendorong peningkatan aset BTPN sebesar 8% (yoy) dari Rp 62,6 triliun menjadi Rp 67,3 triliun pada 31 Maret 2014. Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 24%, jauh di atas ambang batas ideal yang ditentukan regulator.

Jerry optimistis terhadap pertumbuhan BTPN kedepan. “Dengan CAR yang kuat, dan utamanya dengan bergabungnya Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) menjadi salah satu pemegang saham pengendali, kami yakin akan semakin memperkuat bisnis dan pertumbuhan BTPN kedepan.” Pada 14 Maret 2014 lalu, SMBC telah menyelesaikan proses pembelian saham BTPN. Kini BTPN memiliki dua pemegang saham pengendali yang kredibel dan terpercaya, yakni TPG Nusantara S.a.r.l (25,88%) dan SMBC (40%). Keberadaan dua pemegang saham pengendali diyakini akan memberikan dampak positif atas kinerja BTPN.

Pada triwulan I-2014 BTPN membukukan laba bersih setelah pajak (NPAT) sebesar Rp 493 miliar. Jika dibandingkan laba bersih selama triwulan IV-2013 (quarter over quarter/QoQ), laba bersih triwulan I-2014 tumbuh 8%.

Lebih lanjut Jerry mengungkapkan bahwa ditengah dinamika ekonomi yang cukup menantang, BTPN tetap konsisten melanjutkan investasi dan ekspansi. Antara lain dengan mengakusisi Bank Sahabat Purba Danarta, memperluas jaringan distribusi, dan terus mengembangkan unit usaha syariah yang berfokus melayani masyarakat pra-sejahtera produktif. “Bisnis model syariah yang kami kembangkan sangat padat karya. Saat ini unit usaha syariah BTPN memiliki 8.275 karyawan, dan selama triwulan I-2014 kredit yang disalurkan kepada para nasabah pra-sejahtera produktif mencapai Rp1,6 triliun, atau tumbuh 161% dibandingkan triwulan I-2013,” tutup Jerry. BTPN tercatat memiliki total jaringan kantor lebih dari 1.200 dan total jumlah karyawan mencapai lebih dari 23.000.


Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

 

PT Bank BTPN Tbk

Andrie Darusman – Communications & Daya Head

Telp: 021-30026200

Email: [email protected] atau [email protected]

 

Sekilas tentang Bank BTPN

Bank BTPN merupakan bank devisa hasil penggabungan usaha PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (SMBCI). Bank BTPN memfokuskan diri untuk melayani segmen mass market yang terdiri dari para pensiunan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), komunitas prasejahtera produktif; segmen consuming class; serta segmen korporasi. Fokus bisnis tersebut didukung unit-unit bisnis Bank BTPN, yaitu BTPN Sinaya – unit bisnis pendanaan, BTPN Purna Bakti – unit bisnis yang fokus melayani nasabah pensiunan, BTPN Mitra Usaha Rakyat – unit bisnis yang fokus melayani pelaku usaha mikro, BTPN Mitra Bisnis – unit bisnis yang fokus melayani pelaku usaha kecil dan menengah, BTPN Wow! – produk Laku Pandai yang fokus pada segmen unbanked, Jenius – platform perbankan digital untuk segmen consuming class, serta unit bisnis korporasi yang fokus melayani perusahaan besar nasional, multinasional, dan Jepang. Selain itu, Bank BTPN memiliki anak usaha yaitu BTPN Syariah yang fokus melayani nasabah dari komunitas prasejahtera produktif. Melalui Program Daya, yaitu program pemberdayaan mass market yang berkelanjutan dan terukur, Bank BTPN secara reguler memberikan pelatihan dan informasi untuk meningkatkan kapasitas nasabah sehingga memiliki kesempatan tumbuh dan mendapatkan peluang untuk hidup yang lebih baik.